Tentang Belajar, Tentang Apa Saja, Dari Apa dan Siapa Saja serta Untuk Siapa Saja
Oktober 27, 2008 pada 7:27 pm
· Disimpan dalam bercerita, inspirasi dari sesama and Label: Asterix, Belajar, Bukit Tui, kuliah, Obelix, Padang Panjang, UNAND, Universitas Andalas, Universitas Terbuka
Bukit Tui, Padang Panjang, Oktober 2008…
Bukit Tui, adalah Bukit yang sempat longsor pada tahun 1987…informasi yang 8dk peroleh…132 orang tewas akibat longsor di Bukit Tui…Konon, daerah lokasi longsor tersebut memang daerah hitam, banyak penjudi, perempuan nakal, dll. Nah, minggu lalu 8dk mengunjungi Bukit Tui, pusat tambang batu alam (batu gamping) di Kota Padang Panjang…
Jalan ke Bukit Tui…terbilang bagus..dan di bawah kaki bukit Tui terdapat Lapangan Olahraga, yang biasa digunakan untuk olahraga berkuda di Kota Padang Panjang, tepatnya Bukit Tui berada di Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat.
8dk mampir di beberapa lokasi penambangan batu yang ada tepat di kaki Bukit Tui…sekurangnya ada 4 lokasi titik penambangan…pada waktu masuk ke liang lokasi penambangan, liang yang dibongkar oleh penambang…8dk merasa takut…takut apabila batu di atas kepala jatuh…hiks…(dalam hal ini saya dapat menerima, ketakutan yang dialami oleh kepala suku Galea, kepala suku bagi Asterix dan Obelix, yang ketakutan apabila langit runtuh menimpa kepalanya)…Bukan apa-apa…martil pemecah batu itu beratnya 7 kg…kebayangkan berat batunya….
Di salah satu lokasi penambangan, seorang penambang baru saja selesai menaikkan batu ke truk…saat si Bapak istirahat…8dk berkesempatan mengobrol…. Nama bapak tersebut Pak Budjang…ia menanyakan maksud 8dk mampir ke lokasi…kami bilang (kami b2) untuk melihat-lihat saja… Kemudian ia bertanya ke rekan 8dk…darimana berasal…kebetulan rekan tersebut berasal dari UI, masih kost di bilangan Margonda…
Pak Budjang kemudian curhat…bahwa anaknya, dua kali mencoba test masuk PGN (Perusahaan Gas Negara) yang diadakan di UI…sayangnya, belum berhasil …kini anaknya sedang bekerja di Batam sambil meneruskan kuliah masternya… Sahabat 8dk menanyakan di mana sang anak berkuliah…Ia mengatakan bahwa anaknya alumni Universitas Andalas (Unand), kemudian Pak Budjang bertutur begini : Saya cuma tukang batu…tapi saya merasa cukup dengan apa yang saya hasilkan…Satu hari kalau dapat satu truk…berarti Rp.60.000… bila batu sedang “keluar” maka kami bisa mendapatkan 3 truk, tapi kalau tidak, satu hari bisa tidak mendapat apa-apa”. Saya bersyukur, sekalipun tukang batu, dengan batu saya dapat mensekolahkan anak saya hingga tamat universitas….
“Memang…ada tukang batu yang tidak dapat mensekolahkan anak mereka…tapi bagi saya…semuanya tergantung kita dan anak kita” Kalau anak kita sungguh-sungguh…saya yakin banyak bantuan untuk belajar, sebagaimana yang diterima oleh anak saya…
Ketika dikejar oleh rekan 8dk tentang biaya kuliah yang cenderung mahal…ia menolak, mengatakan bahwa untuk Unand, biaya masih dalam batas kemampuan…yaitu kemampuan sang anak untuk mencari beasiswa…dan beasiswa…adapun orang tua…lebih fokus untuk adiknya…Ia cuma menyayangkan bahwa kini banyak pendapat, sekolah di Universitas Negeri itu mahal…padahal menurutnya…banyak kesempatan (O ya, pak Budjang, menurut pengakuan dirinya…cuma tamat SD) PaK Budjang juga bercerita tentang pengakuan anaknya yang menyatakan bahwa beasiswa di Unand selalu ada, hanya tergantung, apakah sang mahasiswa mau mencari atau malah malu mencari…Mau berarti siap untuk mengejar prestasi akademik, sebagai salah satu kriteria penerima beasiswa, sementara malu dapat berarti individu bersangkutan, mungkin belum dapat menikmati kuliah,sehingga IP-mereka apa adanya…
8dk teringat, betapa Pak Budjang memiliki ketangguhan yang dapat diandalkan, pekerjaan apa pun, Insya 4JJI dapat mencukupi dirinya…sebagaimana 8dk pernah mendapatkan Pak Burhan di bilangan Margonda… Yang menarik…sekalipun tamat SD, tukang pemecah batu, Pak Budjang memiliki pandangan yang patut dibanggakan bahwa kuliah itu penting, dan cara ia mendidik anaknya untuk “mengejar beasiswa” adalah hal yang harus ditiru, terutama oleh kalangan menengah ke bawah di Indonesia…
Maka 8dk merasa perlu untuk mensosialisasikan kembali, kepada para pemirsa, yang kebetulan sedang dan atau masih berkuliah…tolong tetap dipertimbangkan sekolah dan universitas negeri sebagai salah satu tempat Anda belajar..tentu itu disesuaikan dengan program studi atau jurusan yang Anda minati…sekali lagi..berkuliah murah…sejatinya hanya ada di Universitas Negeri…mau yang paling murah..gampang…saat ini 8dk sedang belajar di UKL (Universitas Kolong Langit/Universitas Terbuka)…jadi kenapa tidak berkuliah di Universitas Negeri?????
Permalink
HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Setuju dg Pak Bujang kl mau biaya kul murah di negri pastinya,aku lu2san Sosiologi Unand,dr mulai masuk aku udah dpt beasiswa bebas SPP bhn smpi tamat 4th.selain itu byk jg beasiswa sponsor,bantuan univ dll.saking byknya mgkn hampir semua mhws mnimal mendpt satu beasiswa slm kul kecuali mhsw yg nilainya jelek ato mmg malas ngurusnya