Belajar Dari Kecil

Tentang Belajar, Tentang Apa Saja, Dari Apa dan Siapa Saja serta Untuk Siapa Saja

Tragedi Pembagian Zakat di Pasuruan…Sebuah Refleksi Sederhana

Teman-teman, 4 hari setelah tragedi Pembagian Zakat terjadi, masih banyak tulisan yang mengangkatnya… Opini Kompas hari ini (19/9/2008) bahkan semuanya bertutur tentang Kemiskinan dan Zakat…Bahkan Jurnal Nasional (korannya Demokrat) Anas Urbaningrum hari ini mengangkat Judul Zakatul-Maut. Zakatul Maut, gak jelas apa artinya…Zakat Kematian, apalagi definisinya…Judulnya (maaf) seakan tidak mengangkat bahwa ia adalah Mantan Ketua HMI…sayangnya saya gak tahu kalau orang HMI itu gak semuanya mengerti dan faham bahasa Arab (apalagi tata bahasanya). Mungkin hal ini karena saya selalu berfikir positif tentang HMI… pemikiran yang sebaiknya sudah mulai harus saya ubah…

 

 

Tulisan ini, cuma mencoba reflektif aja, kebetulan sebagai muallaf, nasionalis (Soekarno is one of my step father…hiks)…Karena ini reflektif, maka point pembenahan akan secara niscaya menggebuk saya sendiri, kalau ada orang lain yang terjewer, ya lumayan lah…lha wong saya aja digebuk kok…

 

 

Tentang Pembagian secara Langsung…Minimalis Jumlah… Kuantitas Optimum

Keluarga H.Syaikhon, kabarnya telah melakukan bagi-bagi rezeki ini sejak tahun 1990…Secara pembagian perorang kecil, tapi secara kuantitas yang menerima, banyak… Masalahnya apa…Riya atau Bukan… Jawaban silakan Anda ungkap secara pribadi…dan pastikan buat Anda saja…sebab Riya itu permainan Anak Manusia dengan Illah-nya…Biarkan Allah yang menilai…Kalau tanda-tanda itu dapat Anda baca, maka itu cuma keberuntungan atau ketidakberuntungan Anda…tapi penilaian bukan hak Anda (sorry, ini pendapat muallaf lho). Berikut beberapa analogi….

 

BUDAYA…???

Pada tahun 1984 dan 1986, saya merasakan  (baca; menerima) pembagian uang yang diberikan oleh salah satu Keluarga Pendiri Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo…yaitu pada saat selesai Shalat Iedul Fithri… Pada saat pembagian…Almarhum KH.Imam Zarkasyi mengatakan bahwa pembagian uang itu merupakan tradisi di keluarga beliau…mudah-mudahan bisa menambah kegembiraan bagi para santri, atau calon santri yang kebetulan terpaksa merayakan Iedul Fithri di lingkungan pesantren… Kalau tidak salah, hanya Rp 200…dan uang itu saya simpan…kenang-kenangan…

 

Pada tahun 1988, saya sempat Iedul Fithri di Blitar. Di sekitar Pojok Garum, seingat saya, satu hari menjelang Lebaran, ada beberapa keluarga yang membagi-bagikan uang, yang nilai-nya antara Rp.5.000 dan Rp.10.000..ke lingkungan tempat mereka tinggal…ternyata hal ini juga terjadi di daerah Bendogerit (kalau tidak salah dekat makam Presiden Soekarno) Yang menjadi pembeda adalah di Bendogerit, yang membagikan keluarga yang datang dari Jakarta, sementara di daerah Pojok Garum, memang orang desa tersebut..

 

Nah…apabila kita kaitkan dengan kenyataan bahwa tiap-tiap mendekati lebaran, penukaran uang kecil banyak terjadi untuk dibawa pulang oleh si Pemudik dan atau siapa saja…maka jelas bahwa pembagian itu adalah pembagian uang yang sifatnya entah tradisi atau budaya setempat, yang mungkin lebih mendekati ke arah sedekah biasa…

Maka…endusan hidung saya….pembagian uang di rumah H.Syaikhon, seyogyanya diletakkan pada tataran budaya, dan atau sedekah biasa… (nah para amil boleh tepok tangan…gak kena tembak…gak kena tembak…)

 

Zakat…???

Nah ini menarik, apabila kita ingin mengkaitkan atau mengklaim kejadian itu sebagai pembagian Zakat…ada beberapa pijakan TOLOL yang saya miliki…(mengingat pijakan ini tolol, Anda boleh ikutan mengambilnya sebagai pijakan, atau malah menertawakannya…terserah)

a. Pengalaman saya hidup di basis NU di Jawa Timur, termasuk Tapal Kuda, pengetahuan individu tentang agama (secara kuno) cukup memadai…saya mengendus dari pihak keluarga H.Syaikhon…tidak sedikit yang mengkaji dan atau minimal membaca KITAB KUNING…nah..apabila endusan saya benar…maka pengertian Zakat dan pembagian Zakat, akan tidak paripurna apabila jumlah yang 2.5% dari harta hasil usaha nisab zakat, dibagikan untuk ratusan atau ribuan… Entah kalau yang membagikan itu Jusuf Kalla, atau Aburizal Bakrie…

 

Bagi teman-teman yang secara ideal mengkaji kitab kuning, terutama basis Pasuruan-Jombang,saya yakin kok kalau mau bagi-bagi zakat di wilayah Pasuruan…minimal Rp.500.000/orang…baru itu Zakat… Kenapa….karena zakat untuk memberdayakan…(zakat tahunan) kalau zakat fithrah itu untuk berbagi kebahagiaan dan meniadakan rasa lapar… Tapi ….zakat harta…bukan sekadar untuk kedua hal terakhir…

 

Pijakan Rp.500.000 itu berasal dari kunjungan saya terakhir ke Bangkalan, Malang, dan Sidoarjo…di sana saya masih dapat  sarapan pecel Rp.1.000 (bangkalan) dah lengkap dengan nasi dan irisan telur dadar..  Makan Siang lauk lengkap di Bangkalan Rp.3.500 (telur, sayur, krupuk dan air teh) atau Pecel dengan telur dan es teh Rp.4.500 (di Sidoarjo)…Di kedua tempat ini, mereka berdagang dari RUMAH masing-masing…Jadi Rp. 500.000 itu mudah-mudahan sudah DAPAT MEMBANTU mereka MEMILIKI MODAL UNTUK USAHA….

 

Jadi pijakan Zakat pada pembagian harta H.Syaikhon, pada pijakan pendapat saya, gugur…dan itu sedekah…tapi tentu niat akan bergantung pada hati PEMILIK HARTA… (Kel.H.Syaikhon). Zakat, adalah kewajiban, dan hemat saya yang muallaf, sebagaimana Sholat adalah kewajiban, maka proses zakat dan sholat haruslah dalam kontrol mutlak individu yang melaksanakan ibadah… Ketika shalat anda tidak boleh mabuk, dan selesai shalat boleh jadi; merupakan tindakan bijaksana apabila anda sempat bertanya dalam hati Anda…”Tjuk, kira-kira shalat-ku diterima apa gak nyang Allah ya? …Nah pada zakat,ketika Anda telah menjaga proses pencarian uang dengan baik, harta yang anda keluarkan juga harus dapat Anda kontrol dengan baik. Maka…zakat yang Anda keluarkan tidak cukup untuk melepaskan diri anda dari tanggungjawab atas “kelarnya” penunaian Zakat… Mau bukti…mungkin agak lain…mumpung masih Ramadhan…pas hari terakhir.,..keluar dong bayar zakat fithrah secara mandiri…nanti bisa Anda temukan (kalau Anda beruntung)

 

 

PAMER???

 

Nah ini agak konyol, ketika di salah satu program TV yang menayangkan bahwa ada anggota masyarakat sekitar H. Syaikhon yang mengatakan bahwa kel H. Syaikhon itu pelit…medit…

Maka…pamer adalah pilihan…Tapi…secara pribadi saya mengesampingkan hal ini…saya lebih memilih pada pelestarian TRADISI keluarga di Kampung…Sebab, kalau pamer, ini menjadi BUMERANG…Rp.30.000, itu hanya cukup untuk membeli 12 es krim walls (paddle pop pyrata)..Dan pihak H.Syaikhon tidak akan bertindak sebodoh itu…

 

TENTANG ZAKAT dan KETIDAKPERCAYAAN PADA BADAN AMIL ZAKAT..

 

Quraish Shihab, dalam pendapat yang dikutip oleh Media Indonesia (16/09/08) halaman 1,mengatakan bahwa zakat, orang Miskin tidak datang kepada pemberi Zakat, melainkan pemberi yang datang, mengunjungi, dan memberikan zakat…

Tanpa menabrak wilayah keagamaan, beberapa sosiolog yang saya kutip dari beberapa Koran tanggal 16 (Koran yang saya kejar pada tanggal 16, seperti Kompas, Jurnal Nasional, Koran Jakarta, Warta Kota, Media Indonesia dan Republika) mulai MEWANTI-WANTI…bahwa KEPERCAYAAN TERHADAP LEMBAGA AMIL ZAKAT,.. perlu UNTUK DIPERTANYAKAN…

 

Nah,mari kita lihat gambaran sederhana saja…

Sebagai Ulama hafal qur’an, dan ahli tafsir, tentu Quraish Shihab dapat kita anggap mengatakan yang sesungguhnya (ini saya percaya sekali)…

RUSAKNYA SEKARANG….ADA LAYANAN “KAMI JEMPUT ZAKAT ANDA” oleh beberapa BAZIS dan atau LAZIS…tapi saya BELUM PERNAH MENEMUKAN (bahkan saya malah mengalami kesulitan dengan beberapa OKNUM…ba71n94n…lembaga AMIL ZAKAT …;mohon melihat tulisan saya terdahulu..) tulisan/iklan atau ucapan seperti ini SAUDARA-SAUDARA ku SESAMA MUSLIM, terutama GOLONGAN MUSTAHIK ZAKAT….INI ada BEBERAPA hal yang PERLU KAMI UTARAKAN SEBAGAI pertanggungjawaban kami atas UANG YANG DITITIPKAN OLEH MUZAKI kepada Kami..

A.. Apabila Anda Merasa Berhak untuk mendapatkan zakat, prosedurnya adalah a…b…c……B….Mengingat kesulitan keuangan Anda (itu kenapa Anda merasa menjadi Mustahik) maka PETUGAS KAMI pada Hari A…ada di Kantor Desa A, pada Hari B ada di kantor desa B, pada hari C ada di kantor Desa C.. jadi saudara dapat berkunjung ke sana, dan kami juga mudah mengkonfrontir, apakah betul saudara termasuk mustahik atau bukan….mengingat lokasi yang berdekatan dengan rumah saudara masing-masing…

Terakhir…Mohon Saudara-Saudaraku memberikan KEBEBASAN bagi KAMI untuk MELAKUKAN PENILAIAN secara independent, apakah SAUDARA berhak MENERIMA atau TIDAK…tolong YAKINLAH Bahwa kami  TIDAK HANYA CAKAP DALAM MENGURUS JENGGOT_JENGGOT KAMI atau MENUTUP AURAT KAMI…atau DISIPLIN DALAM IKUT PENGAJIAN ATAU LIQO…tapi KAMI JUGA MEMILIKI PENGETAHUAN YANG CUKUP, BAIK SECARA SYAR’I maupun SOSIAL tentang Zakat.. Maka, mohon…yakinlah bahwa kami juga yakin NERAKA itu ADA…dan kami juga Yakin karena kami memegang uang banyak, KESEMPATAN KAMI MENJADI KORUPTOR juga besar…

JADI…UNTUK SAUDARAKU ADIWARMAN KARIM…DIDIN H…yang berkecimpung di PERZAKATAN NASIONAL….ANak BUAH Lu tuh diBENERIN OTAKNYA….DIKASIH ILMU,…KALAU TAMBENg…suruh mereka KELUAR.,..mereka ADA bukan untuk NYUSAHIN,,,tapi Sebatas PERANTARA…PERANTARA ATAU JEMBATAN ADANYA Bukan uNTUK MENYUSAHKAN….KALAU UNTUK MENYUSAHKAN…ITU NAMANYA  BAJINGAN!!!! LEBIH BAIK LANGSUNG ALIH KERJA JADI KORUPTOR AJA…KETAHUAN…

 

Sorry,saya gak bisa nahan emosi euy, kalau ngomongin zakat, maklum muallaf…ha…ha…ha.. Jadi kapan kita bisa melihat iklan atau acara roadshow…”Bagaimana ANDA BISA MENDAPATKAN ZAKAT DARI KAMI…SEBESAR KEBUTUHAN YANG ANDA BUTUHKAN DAN DENGAN KOMPETENSI ANDA YANG DAPAT KAMI UKUR….

 

JANGAN CUMA MAUNYA SOSIALISASI “””UANG LU GUA JEMPUT DAH…LU GAK PERLU REPOT…ZAKATLU GUA JEMPUT DAH…

ATAU…SAYA PERCAYA (lihat kan iklannya di TV-TV) KALAU CUMAN IKLAN ZAKAT ANDA KAMI JEMPUT…coba deh dipikir sederhana…beda gak sih elu-elu yang diamil (maksudnya Amil Zakat)  dengan PREMAN atau malah dengan PENGEMIS (parahnya; Anda berlindung di balik hukuman Agama)…pasti kalau Anda rasional….jawabannya BETI BO! (Beda TIPIS BO!!!)

 

OKE…kita tunggu PERUBAHAN ITU kalau GAK ADA juga..Gua do’ain dah lu pada…tambah pintar ngurus JENGGOT…itu doang…KALau Gak MUNDUR AJA OM…udah dapat gelar KH……di BAZNAS…eh…ada kejadian yang mengatasnamakan zakat dan menewaskan orang…koq gak KESENTIL UNTUK MINTA MAAF…APALAGI MUNDUR…atau UDAH PADA BERMENTAL POLITISI…katanya…JABATAN ITU AMANAH…….jadi jangan ampe lu benanah (bernanah) mempertahankan jabatan…

TENTANG POLISI…Ha..ha..ha…PAHLAWAN KESIANGAN…

Di beberapa berita, Kapolres atau Kapolsek ya…saya lupa atau malah Kapolda…begini

“Kami (KEPOLISIAN) menyayangkan pihak H.Syaikhon yang tidak berkoordinasi dengan kami….. (Seakan-akan pengamanan itu GRATIS…berikut ceritanya)

a. ANTARA 1993 – 1996, saya sering bolak balik Lumajang – JAkarta, bawa jeruk…nah di jalan tol…hampir tiap kita lewat tol Surabaya – Malang atau Cikampek…tiba – tiba ada mobil Patroli mendekat..dan ketika kita lempar kotak korek api (biasanya isi Rp.2.500, tapi kalau lagi kere, saya  isi 500 perak aja)  mereka tidak mengikuti lagi… Pernah kami coba untuk gak ngelemparin kotak korek api…eh malah disuruh minggir…dan Alhamdulillah, karena surat lengkap (termasuk surat jalan) Polisi itu terus terang meminta uang untuk rokok…. Pahamkan maksudnya…

 

DASAR MEMANG INDONESIA ITU NEGERI PARA BAJINGAN (TERMASUK JUGA SAYA…JANGAN-JANGAN)…Tahun 2007 kemarin…saya sempat mendapatkan kesempatan mengiringi pengiriman PLAT untukJEMBATAN SURAMADU… KAMI BERANGKAT dua TRUK, saya di TRUK pertama…tiba di SEMARANG kita terpisah… eh…ada pemeriksaan truk…SURAT-SURAT LENGKAP…akhirnya si POLISI (atau boleh Anda Baca; ANJINGNYA si POLISI) terang-terangan minta duit…saya bilang..kalau lu baek-baek minta. terang-terangan aja, ya ini…Rp.2.000 dan parahnya…dia terima…

 

NAH…MASIH PERCAYA  POLISI??? atau PERCAYA karena Gak Ada PILIHAN LAIN…Kasihan ya…kita… Maka…karena H. Syaikhon paham bahwa POLISI bukan al asnaf attsaminah, atau golongan yang memiliki hak untuk menerima ZAKAT…wajar aja kalau dia gak manggil polisi…bukannya malah ngamanin, nanti malah morotin…

 

ATAU…perlu kita USULKAN KEPADA komisi FATWA MUI…supaya untuk INDONESIA; PIHAK  KEPOLISIAN juga dijadikan golongan MUSTAHIK PENERIMA ZAKAT…. Gila kan…masak sih Adang Daradjatun yang kayanya milyaran (katanya sih dari usaha bini-nya) bisa masuk asnaf tsaminah…ya..(nah lho!?)  Tentu, MUI bisa bernegosiasilah dengan PIHAK CALON penerima ZAKAT kesembilan ini….

 

 

SEBAGAI PENUTUP…MEngeluarkAN ZakAT adalah KEwajIBAN…maka mohon bagi anggota MASYARAKAT yang telah mendapatkan kelonggaran dari Allah SWT, mencermati..kepada siapa ZAKAT akan mereka berikan…..mOhon lihat…saudara Anda…saudara Jauh Anda…atau TETANGGA di samping RUMAH ANda atau diluar lingkungan komplek  ANda…angkat MEREKA (dengan zakat Anda) agar dapat BERBAGI SEPERTI ANDA…NIATKAN…TAHUN INI SATU KEPALA KELUARGA BANGKIT, TAHUN DEPAN LIMA KEPALA KELUARGA BANGKIT (dua dari Zakat Anda dan tiga dari Zakat orang yang telah Anda berikan zakat mereka pada tahun sebelumnya…amien)

 

ADALAH HAL YANG TIDAK BENAR, apabila ANda mengeluarkan ZAKAT, dan memasrahkan secara MEMBABIBUTA kepada AMIL ZAKAT…HAL INI sama SAJA dengan ANDA MENGANGGAP AMIL ZAKAT SEPERTI BABI YANG BUTA (untunglah selama ini teman-teman liar saya cuma memanggil saya BABI AER…bukan BABI BUTA) kalau iya…sama dong saya dengan Teman-teman di Amil Zakat…pintarnya cuman ngurusin jenggot, jilbab…gitu-gitu doank……

 

AAAAA……MMMMM…….IIIII…….TTTT     – AAAA…MMMM…IIII…..TTT (silakan lihat salah satu episode Asterix; Pustaka Sinar Harapan, maaf saya lupa judulnya…)

Iklan

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: