Belajar Dari Kecil

Tentang Belajar, Tentang Apa Saja, Dari Apa dan Siapa Saja serta Untuk Siapa Saja

TRAGEDI PEMBAGIAN ZAKAT DI PASURUAN…SEBUAH MASUKAN UNTUK BERSAMA

 

 

Dua minggu setelah tragedi Pembagian Zakat di Pasuruan, apakah kita sudah dapat mengendus hawa perubahan? Perubahan dalam hal keinginan untuk mengelola zakat lebih baik lagi…? Wallahu A’lam bi Showab. Sepertinya tidak…sebab “BELAJAR atau MEMPERBAIKI DIRI, bagi kebanyakan orang Islam; terutama di Indonesia, cenderung dihindari. Kebanyakan orang Islam, seakan-akan telah dibawa ke surga, dengan kata-kata bahwa ia adalah ciptaan sebaik-baiknya ciptaan. Tapi terlepas dari itu semua…mudah-mudahan masukan di bawah ini dapat mengetuk kita semua (terutama pihak yang telah mendapatkan kesempatan atau mendapatkan kewajiban untuk mengeluarkan zakat harta mereka).

 

 

 

UNTUK PARA  WAJIB ZAKAT…

 

a.    Mari kita mensyukuri keberlimpahan harta yang kita dapat, mengingat beratnya perjuangan mendapatkan sehingga ketika kita memberi pun kita akan hati-hati. Hati-hati dalam mengeluarkan zakat bukanlah pelit, sebab zakat harta adalah sesuatu yang harus Anda keluarkan apabila sudah cukup nisabnya…Apabila Anda mengingkarinya, sementara kecukupan telah Anda lampaui, saran saya sederhana, ada baiknya Anda pindah agama. Hemat saya, dalam agama apa pun, moda pembagian zakat adalah manifest (Kalau tidak salah dikristiani ada perpuluhan, sementara pada umat Hindu, pemberian kepada Dewa atau upacara keagamaan, dapat lebih besar daripada biaya perawatan kendaraan bermotor  yang mereka miliki). Sedihnya orang yang beragama, ia diminta untuk bertanggungjawab menepati ketentuan agama yang ia miliki. Bagaimana dengan multi tafsir…ya boleh…as long as yang menafsirkan agama itu Anda-Anda yang memang memiliki  kompetensi bukan asal…Kalau asal, lebih baik Anda jadi politisi….

 

Maaf, terlalu melebar… Untuk Muzakki, mulailah melihat ke keluarga dekat Anda, ke keluarga jauh Anda, tetangga dan mereka yang dekat dengan Anda…Lihat kebutuhan rekan-rekan Anda tersebut, berapa biayanya…cukupkan dengan zakat Anda…atau belum…Bila cukup…berikan kewajiban zakat Anda kepada mereka… Kabarkan bahwa, apa yang mereka terima adalah hak mereka…bukan beban, tapi tanggungjawab, agar mereka dapat lebih membantu, diri mereka sendiri, dan orang lain di kemudian hari.. Apabila belum cukup, ajak satu atau dua orang muzakki lain, untuk mencermati calon penerima zakat…coba wacanakan menuntaskan  hak penerima zakat, untuk menerima zakat pada tahun ini saja, tahun berikutnya, mudah-mudahan mereka dapat menjadi muzakki seperti Anda dan teman-teman Anda… Memang ini cenderung “merepotkan”, tapi percayalah, meluangkan Sabtu dan Minggu Anda untuk mencermati lingkungan dan keluarga, akan menghasilkan “Kenikmatan Duniawi” yang HANYA ANDA SENDIRI yang dapat menggambarkannya…

 

 

Apabila Anda ragu, tentang penilaian Anda, mintalah pembanding dari pihak ketiga, yang Anda percayai dan yakini, tapi keputusan tetap di tangan Anda… Bagi mereka yang hidup di Jakarta, mohon maaf, 5 juta rupiah seringkali belum  cukup untuk menjadi modal awal usaha, tapi untuk di desa, 1 juta boleh jadi sudah cukup….Maka lihat…sesuaikan dengan kemampuan atau kewajiban zakat Anda…pilih calon penerima dari lingkungan terdekat…Yakinkan mereka bahwa yang mereka terima hari ini, adalah bagian dari tanggungjawab mereka untuk mendapatkan rezeki lebih banyak lagi, sehingga dapat membantu orang lain, pada tahun berikutnya…. Ingat, tidak semua usaha dapat selesai dalam masa satu tahun (hingga BEP/ROI) maka, ajari mereka ilmu yang Anda miliki…Uang dapat membeli sesuatu, tapi tanpa ilmu, uang Anda akan menguap tak berbekas….Repot…..ya…pasti repot…tapi mohon jangan dinegasi beberapa hal ini :

i.ketika Anda mengeluarkan zakat, Anda menunaikan ibadah, dan salah satu sarana menjaga ibadah kita adalah dengan memastikan kesempurnaan proses terjadinya ibadah itu…

 

ii.ketika Anda membagi ilmu Anda…ingat…sesungguhnya Anda akan melatih diri Anda untuk tidak hanya dapat berbagi, melainkan juga untuk selalu menambah ilmu Anda sendiri…Apa sebab, karena dalam transfer ilmu tersebut, seringkali Anda menemukan bahwa ilmu yang Anda miliki dapat berbenturan jauh dengan persoalan orang yang Anda bimbing (sekaligus penerima zakat)…Lalu kalau Anda tidak sempat juga…kejar salah satu Amil Zakat…minta tolong mereka untuk menyempurnakan niat Anda untuk si Fulan…Kalau mereka menolak (padahal mereka juga dibiayai oleh sebagian zakat yang mereka kelola) Laporkan saja ke kepolisian (itu kalau Anda percaya dengan polisi) atau laporkan ke atasan mereka…atasan mereka tidak mau bertemu Anda….sabar…sabar…lalu cari dari pihak lain…Kalau perlu non muslim yang Anda percayai…Ingat …tidak semua manusia baik, dan tidak semua orang muslim baik, serta tidak semua ORANG YANG BEKERJA DI AMIL ZAKAT MEMANG MEMILIKI KETERPANGGILAN UNTUK BEKERJA SECARA PROFESSIONAL, boleh jadi mereka bekerja sekadar untuk mencari status agar tidak dicap PENGANGGURAN, parahnya lagi apabila sekadar untuk mencari makan…(Lebih baik cari tempat dan kegiatan kerja yang lain)..

 

iii. suka atau tidak suka, yakinlah, apabila proses ini dapat Anda jalankan, kesulitan atau kebingungan Anda hanya pada dua atau tiga kali masa pembagian zakat, selebihnya Anda akan merasakan nikmat…Kesulitan ketika Anda mencari orang yang cocok dan sesuai dengan nilai nominal Anda, hanya sebentar, selebihnya Anda akan merasakan nikmatnya  berbagi, nikmatnya membahagiakan orang lain, sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada diri Anda…Pada titik lain, keluarga Anda akan terlatih untuk mengikuti perbuatan Anda, tanpa perlu Anda menggurui mereka…maka BAYANGKANLAH “MULTIPLY EFFECT” yang akan ANDA LIHAT, yang disebabkan oleh kesediaan ANDA untuk meluangkan waktu memperbaiki pola dan tata cara pengeluaran zakat Anda..

 

b.    ZAKAT FITHRAH…ini sebagai penyempurna ibadah PUASA…mulailah sempatkan diri, melihat ke sekeliling, adakah mereka yang membutuhkan terlihat oleh Anda…Pasti…nah…mari luangkan waktu Anda selepas tarawih pada hari terakhir…lihat di dekat pasar tempat Anda tinggal, atau di dekat Tempat Pembuangan Akhir sampah dekat rumah Anda…Adakah mereka di sana, kalau ya…berikan langsung ke penerima…ajak mereka berbicara, siapa tahu mereka cocok untuk menerima zakat harta Anda di kemudian hari…Mari belajar menjadi manusia, bersilaturahmi, tanpa melihat perbedaan apa pun…

Suatu malam sebelum lebaran..saya sempat mencari individu yang akan menerima zakat fithrah saya…ternyata ketika saya temukan di sekitara pasar di daerah Depok, saya bertemu seorang pemulung… Ketika saya tanya apakah ia dapat menerima zakat fithrah saya…ini adalah jawabannya “Maaf, mas, kebetulan kula cukup, jadi pemulung, ada hasil, Alhamdulillah, lumayan…setoran plastik kula bagus terus…nyuwun sewu…mungkin ada yang jauh lebih berhak menerima zakat fithrah Mas dibandingkan saya…’’ Insya Allah, Mas akan menemukan di sekitar sini, tapi untuk saya, kebetulan sudah cukup… (akhirnya ; saya belajar dari pemulung tersebut, bagaimana mengelola sampah plastik, diajak melihat taukenya mengelola plastik hingga menjadi biji plastik baru siap kirim ke pabrikan… bayangkan Satu Saudara Baru Bagi ANDA…tidakkah hal ini membuat  ANDA semakin Bersyukur…)

 

c.     SEDEKAH….

Mungkin tidak jauh berbeda dengan zakat harta dan fithrah…ini adalah proses dan kesempatan Anda membangun jaringan…Berikan kepada individu terdekat Anda, atau orang yang Anda rasa membutuhkan…langsung….Salah satu kelemahan Islami Indonesia (maksudnya kelemahan Umat Islam Indonesia yang sudah mendarah daging…seakan kelemahan itu adalah kelemahan Islam, padahal itu semata-mata kelemahan umat Islam, bukan Islam sebagai agama), lebih menitikberatkan pada kuantitas (penerima sedekah) bukan pada kualitas (perbuatan sedekah) kita lakukan….Tidak perlu malu, apabila Anda bersedekah hanya untuk satu orang, tetapi ia dapat berdaya, daripada untuk seribu orang, tetapi hanya untuk pelepas dahaga…

 

Harus diakui, banyak orang Islam Indonesia yang miskin, tapi tidak sedikit yang menjadikan kemiskinan sebagai PELUANG HIDUP, bukan sesuatu yang harus diperangi…contoh paling ABADI di Depok, di daerah Kampung Lio, ada kampung pengemis, daerah operasi  sekitar Depok…Kalau Anda beruntung mampir ke salah satu rumah mereka (saya melakukannya pada masa kuliah) ada di antara mereka (kalau tidak dapat dikatakan banyak) merokok dji sam soe, membeli slop-slopan…padahal saya sendiri ketika itu, hanya bermain dengan Sampoerna  Hijau…selera…betul dan selera ADA HARGANYA…

 

 

Hampir setiap tahun kampung itu diangkat oleh Televisi…dan bagi PEMDA DEPOK…saat ini dipimpin NURMACHMUDI ISMAIL, sepertinya menjadi ajang kebanggaan tersendiri apabila DEPOK diangkat setiap BULAN PUASA…masalah beritanya apa…itu masa bodoh…Betulkan om Nurmachmudi….(?) Nah…maaf melebar terus… saya sempat berbicara kepada mereka, dan mereka mengakui bahwa pendapatan menjadi PENGEMIS jauh lebih menguntungkan dibandingkan mereka menjadi buruh TANI…rumah bisa diperbaiki, ada TV buat anak di kampung…Jadi…berhati-hatilah dalam bersedekah…Ketika tanpa sengaja Anda menjadi mengemis sebagai pilihan hidup orang yang Anda berikan sedekah…pada titik itu (tanpa Anda sadari) Anda menjerumuskan mereka….

 

Maka, bersedekahlah dengan menyempurnakan sedekah sebagai “laku” yang mengukuhkan bahwa perbuatan Anda adalah bentuk syukur atas kesempurnaan yang telah diberikan oleh ALLAH SWT kepada Anda, terutama secara materi. Ini akan berat, Anda boleh ragu…apakah saya bersedekah ini baik atau buruk atau bagaimana…Tetapi, keraguan adalah proses yang normal..Sekali Anda kesulitan menyempurnakan IBADAH BERSEDEKAH ini, yakinlah, esok hari, beribu kenikmatan akan Anda terima, karena satu kesulitan tersebut memperkaya Anda… Pada titik ini, Anda akan dapat peka (insya 4JJI) secara sosial, mana orang yang benar-benar membutuhkan bantuan Anda, atau orang yang menjadikan MENGEMIS sebagai pekerjaan. Apabila ini Anda dapat, simpan untuk diri Anda, tularkan ke keturunan Anda…INGAT perbuatan BAIK AMAT SUSAH UNTUK DITRANSFER DAN ATAU DISOSIALISASIKAN…itu berbeda langit dan bumi dengan PERBUATAN BURUK…silahkan dicoba…

 

    

d.    Ada baiknya kita cermati, bahwa saat ini kita diberi kesempatan untuk  berzakat dan bersedekah…boleh jadi di kemudian hari…kita malah yang membutuhkan pertolongan itu (semoga Allah melindungi kita semua dari hal yang demikian..amien)…Maka mulailah pertimbangkan langkah berzakat, bersedekah, sebagai sarana pembangun jaringan…Tapi, bukan berarti Anda mengharapkan imbalan dari apa yang telah Anda keluarkan, melainkan persaudaraan dan pertemanan Anda yang berkembang sebagai mana Alam Berkembang SESUAI dengan KEINGINAN ALLAH SWT… Silaturrahmi, secara sosial menurut saya adalah inti dari proses zakat, Silaturrahmi adalah BOHONG kalau ia tidak MEMBERDAYAKAN…. Sementara ini, silaturrahmi telah diturunkan nilai arti kata dihadapan kita umat Islam di Indonesia….Sejatinya…ini karena KETOLOLAN KITA SENDIRI SEBAGAI UMAT ISLAM…Fatalnya…Umat ISLAM…terutama di INDONESIA (tentu saya juga termasuk) ADALAH SEKUMPULAN ORANG YANG TIDAK MAU BELAJAR MENGAKUI KEBODOHANNYA, APALAGI UNTUK MEMPERBAIKI KEBODOHANNYA…

 

Maka, kembangkanlah persaudaraan dan pertemanan, salah satunya melalui proses bersedekah dan berzakat…Yakinlah, Nikmat yang Anda akan dapatkan bertambah…jauh dari APA YANG MUNGKIN ANDA PERNAH BAYANGKAN…   semakin kita banyak teman, semakin kita banyak saudara, semakin kita dapat melihat HIDUP ITU INDAH, dan SEMOGA berbagi KEINDAHAN serta KEBAHAGIAAN selalu menjadi bagian dari kehidupan kita semua…

 

 

 

Akhirnya, pilihan di tangan Anda, tentu Anda berzakat, membangun orang lain, sekaligus membangun jaringan keluarga baru Anda, jaringan Anda dan diri Anda, mungkin salah satu pilihan yang baik untuk dicoba….

 

 

 

UNTUK  PARA AMIL ZAKAT

 

 

a.           Mulailah melihat bahwa APA YANG ANDA kerjakan ADALAH TANGGUNGJAWAB…gak usah berlindung dibalik profesionalisme ANDA apabila Anda sebagai Amil Zakat, tidak bisa berbahasa Arab…Kenapa…karena Al-Qur’an berbahasa Arab, dan perintah Zakat, pada awal mula diturunkan dalam BAHASA ARAB… Gimana Anda mau menikmati pekerjaan Anda, apabila Anda tidak mengerti dengan baik asal muasal pekerjaan Anda…. Analogi paling mengerikan adalah, ketika Anda bersenggama (dengan siapa pun juga) dapatkah Anda menikmatinya…dan kemudian meminta pengulangan kepada rekan bersenggama Anda…Itu hanya akan terjadi karena Anda menikmati dari A – M (minimal) bahkan dari A – Z (ini ideal) proses senggama yang Anda lakukan… mau bukti…pasangan Anda tahu daerah sensitif Anda, begitu juga Anda, sementara Anda juga memahami bahwa proses senggama tersebut didasari rasa cinta, atau nafsu, atau ibadah (terserah Anda boleh memilih sala satu dari ketiganya atau keseluruhan)…maka KENIKMATAN adalah KENISCAYAAN.

 

Nah…transfer proses ini pada saat Anda menjalankan amanah Anda sebagai Amil Zakat….Insya 4JJI Anda akan merasakan trance,  Anda memahami dengan baik perintah zakat, sedekah, dan kenapa harus Anda ada, dan apa yang harus Anda lakukan sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Syariat Islam…kemudian ada dapat mencari turunan terbaik untuk Indonesia…nah itu… jadilah individu yang terus mencoba menyempurnakan diri…bukan menjadi individu yang sempurna, karena kesempurnaan bukanlah milik manusia….

 

b.           Apabila point A telah Anda jalankan, maka Anda akan terpacu untuk melakukan kreativitas sebagai bentuk tanggungjawab Anda…Kalau selama ini Anda hanya menjemput zakat dan sedekah…TOLONG DIPIKIRKAN bagaimana ANDA membagi DENGAN BAIK DAN BENAR…Pada titik ini, Anda harus memiliki kemampuan Analisa yang KUAT…Jadi bagi PARA AMIL YANG MEMPEKERJAKAN  petugas  yang lemah kemampuan ANALISIS-nya…frankly speaking…jangan-jangan Anda hanya ingin menjadikan Lembaga Amil Zakat sebagai lembaga untuk memperkaya DIRI ANDA…(apa bedanya dengan koruptor!?) Kemampuan Analisis  akan mempercepat proses “BERBELIT-BELIT dan PROSEDURAL ; (maaf …741  KUC1N9)  Apabila Anda senang berbelit-belit…selayaknya Anda mencoba menjadi PNS di Republik Ini…Terserah pilih sendiri kementriannya…Insya Allah prosedural yang berbelit-belit akan Anda temukan…Atau jangan-jangan Anda jadi petugas Amil Zakat karena kebencian Anda terhadap diri Anda yang berusaha jadi PNS tapi gak pernah berhasil (naudzubilah min dzalika…O…O kamu ketahuan….)

 

 

c.            Terakhir, Ingatlah bahwa Anda..hanya PERANTARA, JEMBATAN atau MEDIATOR, bukan ANDA YANG PUNYA UANG ITU….karena Anda mediator, haruslah ANDA bangga Apabila Anda bekerja dengan baik , anda tidak disebut-sebut…Ingat Anda bukan politisi kelas INDONESIA yang selalu membangga-banggakan Apa YANG TELAH IA PERBUAT untuk INDONESIA…minimal contohlah SEMANGAT POLITISI KELAS INTERNASIONAL…seperti Ir.Soekarno…ia berbuat, dan diasingkan…toh..itu jalan hidup… Prof .Hamka…berani mundur dari MUI karena yakin dengan apa yang ia pelajari…..atau pada titik paling KEJI…mungkin TOMMY SOEHARTO…yang telah berhasil membuat para petani membakar hasil panenan Cengkeh mereka karena tata laksana cengkeh melalui BPPC…terserah Anda boleh pilih Ir. Soekarno, Prof Hamka atau TOMMY SOEHARTO…intinya adalah JANGAN TANGGUNG-TANGGUNG… Kecuali Tommy, dua pilihan awal saya sarankan Anda untuk mengikutinya…Kalau  Anda memilih Tommy Soeharto sebagai model, selayaknya Anda mengundurkan diri dari BAZIS.

 

Jadi, mulai bekerja dengan OTAK  dan AKAL…bukan dengan PROSEDUR… kalau Anda keberatan, minimal tolong doakan agar point-point pada tulisan ini untuk Muzakki dapat terlaksana…sebab apabila hal itu terjadi secara baik dan massif, boleh jadi BAZIS, LAZ menjadi kenangan…atau malah cuma mengurus harta dari para koruptor dan atau pegawai/industriawan, saudagar curang…yang berkeyakinan bahwa MEREKA dapat MENCUCI HARTA kotornya dengan BERZAKAT…bila iya…maka mari kita tingkatkan BAZIS dan LAZ menjadi YAYASAN PENCUCIAN UANG ANDA…slogannya begini kira-kira…ANDA RAGU DENGAN KESUCIAN HARTA ANDA…INGIN TIDUR NYENYAK….SAMPAIKAN ZAKAT/SEDEKAH ANDA VIA KAMI…YAYASAN PENCUCIAN UANG DENGAN KEDOK AGAMA TERBAIK DI INDONESIA atau MUNGKIN di DUNIA…terima kasih…

 

 

 

 

 

2 Komentar»

  fikriakbar wrote @

TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM. DI HARI YANG FITRI INI MARI KITA JAGA KESUCIAN HATI MENUJU KEMENANGAN SEJATI. http://fikri-akbar.co.cc

  belajardarikecil wrote @

Amin!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: