Belajar Dari Kecil

Tentang Belajar, Tentang Apa Saja, Dari Apa dan Siapa Saja serta Untuk Siapa Saja

Archive for July, 2009

…sebuah motif..dari catatan sahabat….

disclaimer

Tulisan ini diambil dari catatan seorang temans..tidak semuanya melainkan bagian yang menurut saya penting tuk ditampilkan…terima kasih…semoga bermanfaat….

Tuilisan ini tidak untuk mempengaruhi penyidikan yang dilakukan aparat, tulisan ini sekadar mengungkapkan pengamatan individual saya selaku penulis…apabila ada kesamaan asumsi, seyogyanya dianggap sebagai suatu berkah..bahwa Pengetahuan adalah MILIK mereka yang mencari, bukan mereka yang merasa berilmu…

Tetap, penyelidikan dan penyidikan adalah wilayah kepolisian, dan saya yakin dengan kemampuan menyelediki /menyidik dari teman-teman di Kepolisian..

Salam hormat dan duka saya untuk para korban, keluarga korban dan kita semua, warga dunia yang terusik oleh aksi kekerasan…

Berdasarkan pengamatan atas kejadian di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, terutama atas JW Marriott, saya menduga bahwa motif kejadian tersebut, murni kriminal biasa,yang berlatar belakang bisnis…berikut apa yang dapat saya amati… :

a. pengakuan salah seorang korban yang menanyakan ke terduga pembawa bom…tentang apa yang ia bawa..dan jawaban (sang terduga) ingin membawa barang/titipan untuk boss saya….

pada tahapan ini …hemat saya :

a. i. Pembawa bom telah menghubungi seseorang yang ia anggap boss…Pada tataran ini, boleh jadi, proses yang akan diserahkan kepada si boss adalah ledakan atau maut…dan ini adalah hal yang biasa dalam proses pembunuhan, apabila yang menjadi target, adalah orang yang sulit untuk ditembus (mungkin karena sistem pengamanannya, atau karena target terlalu tertutup)..Oleh karena itu, salah satu sarana tuk mengetahui adanya keterkaitan target dengan pembawa bom, dapat dilacak melalui traffic cell phone or internet activiities, beberapa korban tewas denganpihak yang dapat dianggap mewakili para eksekutor…

a.ii. Apabila terduga “merefer” boss itu ke TUHAN YME (Apabila tindakan ini terorisme murni berbasiskan agama) , maka si terduga harus telah menjalani proses pengalaman agama yang sophisticated, dan ini harus dibuktikan dengan penelusuran atas memori/kenangan orang-orang yg pernah dekat dan mengenal terduga…Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, saya lebih mengacu pada butir a.ii daripada butir a.ii

B. Gambar Timothy Mackay (Direktur HOLCIM) yang tertangkap di kamera CCTV…
pengamatan sederhana saya..sebagai seorang Top Eksekutif, ia adalah orang yang tangguh dalam mengambil keputusan..dan cepat..tapi pada tampilan CCTV, terlihat beberapa hal

b. i..Ia tampak seperti tidak terlalu yakin,apakah ia akan masuk ke Syailendra atau malah memang menunggu seseorang.
– bagian ini dapat merujuk bahwa ia memang sedang menunggu seseorang,atau ia memang memiliki feeling aneh…(insting/intuisi)..nah baik bagian 1 dan 2, selayaknya dikaji oleh para pakar perilaku, sutradara atau aktor

b.ii. Jeda waktu yang tidak lama, antara Timothy dengan terduga..saat terduga sudah masuk ke Resto, dan Timothy berada (pengamatan saya) tepat di pintu masuk resto…
– jeda ini bisa bersifat koinsidensial, tapi boleh jadi juga sudah terencanakan dengan rapi
-apabila koinsidensial, maka proses shilly-shally Timothy tuk masuk ke resto, menunjukkan ketajaman intuisi almarhum
-apabila well planned, maka masuknya Timothy, memang sudah menjadi bagian dari proses itu sendiri..


Pertanyaan mengemuka, bagaiamana dengan bom yang lain…berikut pengamatan saya

a. bom di Ritz Carlton , bersifat tuk memanipulir prosesi penyelesaian target yang berada di JW Marriott (dan atau dapat berlaku kebalikannya)
b. Apabila bom bunuh diri, pemilihan waktu, serta target korban yang sedikit, dalam hemat saya, bukanlah prioritas di bom bunuh diri…satu nyawa diganti 10 nyawa, bukan hal yang masuk akal saya tuk mengatakan kegiatan ini adalah bom bunuh diri….
c. Selain itu, Apabila JW Marriott dan Ritz Carlton dianggap sebagai bukti kemakmuran Amerika, saya kok melihat…para teroris sudah well educated (mungkin ini pada tataran otak) dan mereka tahu kok, bahwa Amerika sudah kejeblos di krisis finansial yang amat parah sejak tahun lalu (atau malah dua tahun lalu)

Lain – lain

saya sempat mendapatkan info, bahwa pada bom JW Marriott pertama, Om Timothy, juga sedang berada di sekitar (atau akan menuju) JW Marriott…

Penutup

Semoga pihak kepolisian, benar-benar dapat menyelesaikan penyidikan dan penyelidikan kasus Bom JW Marriott dan Ritz Carlton secara independen…Amin




Advertisements

Political Masturbating ; Pilihan Anda hanya Seharga Promosi Indomie

Salah satu bukti kepakaran para konsultan marketing politik Susilo Bambang Yudhoyono adalah menggunakan jingle Indomie, sebagai sarana mempromosikan diri….

Pilihan ini tidak salah, tapi cenderung menegaskan bahwa, pada tahapan kreativitas…para pakar dan konsultan komunikasi SBY – Boediono, cenderung memilih jalan pintas…Creativity is nothing, it’s only a process of masturbating in every aspect of our daily life…mungkin itu salah satu kebijakan yang dipegang oleh konsultan SBY….

Dengan segala keawaman yang saya miliki, saya ingin mengkomentari, dan sedikit membandingkan …nilai harga iklan INDOMIE dibandingkan dengan nilai harga Iklan SBY-Boediono

Sebelum memulai…hitung-hitungan ini, bukanlah hitungan ideal, ini adalah boleh jadi bagian dari proses belajar PR, yang saya dapatkan …ketika melakukan negoisasi dengan pihak Nestle, antara 2003 – 2004….Jadi…dengan segala kerendahan hati….terima kasih untuk pihak Nestle (kalau gak salah, dulu bertemunya dengan Pritha…; maaf agak lupa..)

Mari kita berandai-andai…

1. Indofood, menganggarkan biaya promosi untuk satu tahun sebesar 1 Trilyun, untuk seluruh produk, maupun korporat Indofood (worldwide)

2. 100 milyar diantaranya, dialokasikan, untuk iklan Indomie di Indonesia

3. 10 milyar diantaranya, dialokasikan untuk biaya pembuatan iklan INDOMIE SELERAKU secara utuh (termasuk biaya pembuatan jingle, dan pendukung lainnya)

4. 20 milyar lainnya, dialokasikan untuk biaya penayangan iklan tersebut, selama satu tahun, di seluruh stasiun televisi yang ada di Indonesia (termasuk melalui saluran berbayar).

5. 30 milyar, biaya yang dikeluarkan oleh Indofood untuk “halo-halo” Indomie..Seleraku versi SBY Presiden-ku (ups…terbaik..tapi gak usah dikoreksi lah…capek…)

6. 30 milyar itu apabila ditayangkan selama 6.000 x (jumlah total penayangan dalam satu tahun) maka hasilnya adalah Rp. 5.000.000/tayang dengan durasi kita anggap 60”

7. 1 kali tayang kita anggap dilihat oleh 500.000 pandangan mata (angka pesimistis viewer) maka selama 6.000 x tayang menghasilkan 3.000.000.000 pandangan mata yang melihat…(baik sekilas, maupun hingga tuntas..tas..tas). 6.000/tayang sama dengan 16.666 atau 17 x tayang perhari

8. Cost per view untuk iklan Indomie Selera-ku adalah Rp. 30.000.000.000/ 3.000.000.000 pandangan mata = Rp. 10 (jujur..cost ini hitungan perkiraan moderat). Seseorang boleh jadi melihat beberapa kali hingga berkali-kali tayangan TVC tersebut.

9. Dari 3 milyar pandangan mata..mungkinkah menghasilkan 300 juta transaksi (1 transaksi = 1 bungkus Indomie, jadi 10 bungkus Indomie, dianggap 10 transaksi, 1 dus berisi 48 bungkus berarti 48 kali transaksi)? atau 10 persen dari hasil pandangan mata…?

10. Apabila mungkin, maka jelas, Iklan Indomie Seleraku adalah Iklan yang efektif dan efisien

Mari kita alihkan ke Iklan SBY – Boediono

1. Anggap, karena ide-nya jiplakan…maka biaya yang dikeluarkan oleh SBY, lebih murah kalau dibayar dengan otak yang orisinal…anggaplah biaya pembuatan iklan tersebut menghabiskan Rp. 250.000.000

2. Jingle, bisa dianggap dibeli bisa dianggap ”dihibahkan” dengan terpaksa oleh Indofood ke SBY..

3. Dalam satu bulan masa kampanye, anggap untuk SBY adalah Indomie, dapat tayang 20 X dalam sehari (untuk seluruh stasiun televisi) , selama sebulan, biaya satu kali tayang, senilai 5.000.000 rupiah, maka total biaya yang dikeluarkan hanya 3.000.000.000 (600 x tayang)

4. Lalu bagaimana dengan cost perviewnya?

a. Anggap, satu kali tayang mendapatkan 500.000 pandangan mata, maka untuk 600 X tayang mendapatkan 300.000.000 pandang mata…

b. Maka cost perviewnya bisa dianggap 3.250.000.000/300.000.000 pandangan mata senilai Rp. 10,833/ atau Rp.11/pandangan mata.

c. Nah..apabila dari 300.000.000 pandangan mata, terlahir 3.000.000 voter (kita anggap ini salah satu iklan penarik suara yang utuh) maka nilai transaksi (voter memilih SBY-Boediono) adalah Rp.100/voter/suara. Jadi ini iklan yang efektif dan efisien juga..

d. Bahkan ketika hanya terlahir 300.000 transaksi/voter maka biaya hanya Rp.1000/suara

Nah…lalu apa pentingnya saya mendetailkan ini semua…

1. Proses murah meriah dalam iklan Indomie, Indofood, (seandainya dianggap biayanya murah meriah)…tidak terlalu berdampak bagi kehidupan keseharian kita, sebab..kalau kita melihat ada perubahan rasa di Indomie, dan atau ada yang lebih baik, dengan mudah kita bisa pindah ke merek lain

2. Proses iklan yang dilakukan oleh SBY – Boediono, apabila menghasilkan 300.000 atau 3.000.000 transaksi voter, maka nilai 100 rupiah – 1000 rupiah pertransaksi tersebut..juga murah meriah.
Masalahnya adalah, apabila kita salah bertransaksi (baca: salah menentukan pilihan) , dampaknya kita rasakan selama lima tahun…dan sulit bagi kita tuk beralih ke pemimpin yang lain.

Banyak alasan dan pasti tiap alasan adalah alasan konstitusional…alasan paling mudah agar terjadi perubahan pilihan, dari SBY-Boediono ke pilihan lain, adalah keduanya Mangkat secara bersamaan…selebihnya amat sulit mengganti mereka berdua, minimal hingga 5 tahun ke depan…

atau kita punya seorang provokator jitu (sebagaimana peran yang dituduhkan kepada Antasari Azhar yang memprovokasi para eksekutor Nasruddin) yang bisa mengatakan bahwa SBY – Boediono ditakutkan akan cenderung menjadi pengkhianat, maka perlu dikebumikan..itu pun, sang provokator harus menemukan tim eksekutor yang handal (baca : dari milisi terlatih)…

Maka…sudikah Anda..apabila harga suara Anda…ternyata hanya Rp.1000/suara, dan itu berlaku selama 5 tahun…?


3. Tapi nanti dulu, itu belum seberapa…coba ditengok ini …

a. SBY – Boediono, dengan SBY sebagai Presiden saat ini, yang mencanangkan Tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif, ternyata tidak dapat menghargai kreativitas sebagaimana layaknya suatu kreativitas.

Proses copycat Jingle Indomie oleh Tim SBY – Boediono menunjukkan SBY hanya pro proses kreatif yang ia akui ia lakukan,, bukan yang dilakukan oleh orang lain…maka kita gak perlu heran, apabila masalah Batik, atau Reog yang diklaim oleh Malaysia, cenderung ia diamkan…sebab…gampangn ya…ia mungkin akan berkata…”itu kan ciptaan orang lain…malah …Reog ada sebelum saya lahir..buat apa saya bela…kira-kira begitu otak gampangnya…)

b. Proses pendomplengan Indomie juga merujuk kepada keinginan SBY- Boediono beserta tim untuk dapat segera diingat dan atau melekat di benak para pemirsa…Seharusnya kita berani mengakui bahwa bagi SBY, mencari jalan pintas, bukanlah hal yang taboo…

c. Permasalahan yang mendesak..di depan mata kita, adalah permasalahan ekonomi, dan apabila kita ingin merujuk kepada negara maju, percepatan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, ditopang oleh industri kreatif…pertanyaannya adalah….Apakah SBY – Boediono dapat menghargai INDUSTRI KREATIF? Saya secara pribadi, mengatakan bahwa iklan INDOMIE SELERAKU yang diplesetkan menjadi SBY PRESIDENKU adalah indikator bahwa SBY tidak mungkin menghargai kreativitas orang lain…..Mau bukti???

i. Ingatkah teman-teman ketika SBY me-launch albumnya…??? Ia mendaftarkan hak cipta atas karya seni (lagu) yang ia buat…tetapi…adakah Ia membantu proses perlindungan (kalau pelestarian tidak memungkinkan) hak cipta para perajin seni di Bali?

ii. Sudahkah ia memerintahkan departemen terkait untuk jemput bola? Terkait dengan hak cipta, terutama pada masyarakat kreatif yang bermukim di pedesaan ?(baca : para pengrajin)? Silakan cek ke Om Andi M.Sommeng….

iii. Ketika Reog Ponorogo diklaim oleh Malaysia..bahkan SBY pun, yang nota bene lahir dan besar di Pacitan, Jawa Timur dan kabarnya, orang tua beliau sempat menetap di Ponorogo, tetap tidak melakukan upaya konkrit untuk penjernihan masalah Reog Ponorogo…

Terus terang…jangan pernah membayangkan jarak antara Ponorogo – Pacitan sejauh dari Sabang – Bandar Lampung…gak ada…Ponorogo- Pacitan hanya beberapa jam… Nah, apabila keinginan diri SBY tuk menghargai Reog Ponorogo saja masih tidak mengemuka, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan SBY dapat mengapresiasi kreativitas lokal – apalagi melindungi – dari tempat yang jauh dari Jakarta seperti Kutai Kartanegara, Manggarai Barat, Kerinci…Utopia bukan?

iv. Pada saat pembukaan INAICTA Award & Conference 2008 lalu, M.Nuh, Menteri Komunikasi dan Informasi…sempat secara berkelakar…”mempersetank an” (baca dengan bahasa lebih halus; tidak perlu mempersoalkan) siapa Presiden RI (yang akan datang) , yang penting komunitas ICT, harus dapat hidup dan mengeluarkan kreativitas semaksimal mungkin…

Tidakkah hal ini juga merupakan refleksi M.Nuh atas ”keterpinggiran” ICT di mata SBY…dan ICT…adalah INDUSTRI YANG MENISCAYAKAN PERLINDUNGAN…minimal melalui Hak CIPTA, HAK PATEN, HAK DESAIN INDUSTRI, dan lain-lain…Perlu diingat, M.Nuh adalah orang Pintar…maka ia pun bergerak hat-hati, maka curhatnya seorang M.Nuh.. ..pasti disebabkan oleh pengalaman yang ia alami dan ia telah merasakan titik jenuh atas pengalaman tersebut.

v. Jadi…hak teman-teman (terutama di bidang industri kreatif) apakah Anda sekalian melihat keberpihakan utuh SBY terhadap Industri Kreatif???? Kita boleh berbeda pandangan dan pendapat…tapi…dengan sangat menyesal…saya mengatakan, belajar dari penggunaan Iklan INDOMIE SELERAKU yang diplesetkan menjadi SBY PRESIDEN-KU.. saya katakan..SBY sama sekali tidak berpihak kepada Industri Kreatif…

Pertaruhan INDOMIE dan INDOFOOD GRUP

Bagi Indomie…proses ini…seakan-akan menegaskan keberadaan Indomie dan INDOFOOD sebagai salah satu produk/Perusahaan pendukung SBY-JK. Pada titik ini, Indomie, dapat dianggap telah memasuki ranah politik secara praksis, maka tidak menutup kemungkinan..kita bisa berandai-andai..apabila SBY terpilih..maka INDOFOOD melalui INDOMIE, mendapatkan privilege-privilege tertentu..yang hanya diketahui oleh PIHAK SBY beserta TIM dan INDOFOOD beserta TIM…

Pada titik ini…rasa Indomie…tidak dapat mewakili rasa Indonesia lagi…sebab, ia telah diperkuda oleh rasa Demokrat dan Para Partai Pendukung, atau lebih tegas lagi, bumbu Indomie saat ini – seakan-akan – telah dibuat di Cikeas…

Sayangnya, karena Indomie, Supermie dan Sarimi berasal dari induk perusahaan yang sama, maka kita tidak dapat meminta masyarakat memboikot Indomie, sebab, pelarian masyarakat ke Supermie dan Sarimi, hasilnya sama saja…

Saya secara pribadi berandai-andai, apabila SBY berhasil menjadi Presiden RI untuk periode 2009 – 2014 (ini perandaian, bukan curiga apalagi menuduh..) ..Indofood akan berekspansi di beberapa lokasi di Indonesia, dan pembiayaan ekspansi tersebut…akan dibiayai oleh Konsorsium Bank BUMN…yang berarti …itu oeang masyarakat…he..he..he…

Saya berasumsi…tidak lama setelah SBY – Boediono terpilih…INDOFOOD grup mendapatkan fasilitas pengolahan (dari hulu ke hilir) yang baru…minimal di Pacitan atau di Blitar (kira-kira di Karang Nongko atau malah di Bendogerit) …duh…

Atau jangan-jangan…

kondisi ini sudah well developed by SBY..

since SBY berani menerima Konglomerat HITAM di ISTANA NEGARA beberapa tahun lalu..

atau sejak Boediono memberikan Release and Discharge untuk beberapa pengemplang BLBI..

masalahnya…

karena kita-kita orang kebanyakan masih sibuk mengurusi perut

(mulai dari perut kita sendiri dan keluarga kita; masyarakat papan bawah, ditambah dengan perut selingkuhan, dan peliharaan kita; masyarakat papan tengah, hingga perut sang kekasih yang hanya kita kunjungi di kala kita ingin memuaskan…semata-mata kepentingan di bawah perut…; masyarakat papan atas)…maka…kita tidak mencermati perkembangan tersebut (kedua acara tersebut secara teliti)

Kalau sudah begini…maka perbedaan SBY dengan Soeharto…mengambil kata-kata dari banyak orang…beti bo…Beda Tipis..hiks…


Penutup…

Akhirnya…pilihan terletak di tangan teman-teman…apakah teman-teman akan menghargai suara teman-teman hanya sebatas Rp.1000/vote, dan Rp 200/tahun.. atau memang nurani teman-teman menunjukkan ke arah sana…

sebagai penutup…yang saya tahu…
kalau tidak salah
Pemerintah berasal dari kata perintah…
dan Pemerintah …siapa pun yang akan memerintah…
kalau kita berharap mereka untuk berfikir…berarti kita salah …sebab…
Pemerintah..(karena ia berasal dari kata perintah)…ia hanya cakap untuk memerintah…dan (boleh jadi) ia memang tidak pernah dapat berfikir…

Akhirnya kalau teman-teman setuju untuk mendapatkan pemerintah yang juga pemikir…
pilihlah TUHAN YME….
sebab, ia telah memikirkan jauh-jauh hari…
segala carut marut ini (beserta pemecahan masalahnya) …

Masalah yang tersisa adalah…Masih mau kah TUHAN YME memikirkan kita …atau lebih tegas lagi masyarakat Indonesia? Wallahu A’lam bi-showwab…