Belajar Dari Kecil

Tentang Belajar, Tentang Apa Saja, Dari Apa dan Siapa Saja serta Untuk Siapa Saja

Archive for Koalisi

Selamat Jalan Susilo Bambang Yudhoyono : Memilih Partai, Bukan Rakyat

Sudah beberapa minggu ini, media dipenuhi berita tentang reshuffle kabinet, reposisi koalisi dan lain-lain…Yang menurut beberapa pihak, hal ini bahkan sudah berlangsung sejak akhir tahun 2o1o.

Diakui atau tidak, memang agak menyedihkan,  kejadian ini dipertegas dengan ketidaksolidan partai koalisi untuk menolak hak angket mafia pajak. Entah kenapa, hingga saat ini, pemerintah beserta jajarannya, selalu berlindung dibalik kesalahan “individual atau oknum” bukan karena sistem yang salah. Padahal, sistem yang salah, merupakan jalan tol bagi terciptanya pembenaran kesalahan.

Anehnya lagi, pada saat ini, rakyat sudah banyak yang menderita, sulit mencari makan, tapi, karena SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, ANI YUDHOYONO, keluarga dan kroninya tidak mengalami hal ini, maka mereka lebih mementingkan soliditas koalisi, dibandingkan memikirkan bagaimana caranya MEMPERMUDAH RAKYAT untuk MENCARI MAKAN.

Maka, dapat disimpulkan, bahwa Biarkan RAKYATKU MAMPUS!!!, yang penting sebagian dari mereka MEMBAYAR PAJAK, dan aku hidup dari PAJAK TERSEBUT…kurang lebih begitu pikiran sederhana saya atas pola pikir SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, ANI YUDHOYONO, dll yang mendukungnya…

 

MEMILIH KOALISI BUKAN BERARTI MEMIHAK RAKYAT

Mari kita sama-sama mencermati, bahwa pilihan koalisi dan penguatan koalisi SBY, sama dengan pengkhianatan atas suara yang diberikan rakyat kepadanya….

 

Harus kita akui, bahwa ada beberapa hal yang harus kita lihat dengan jernih, terkait pilihan tersebut, diantaranya adalah :

1. Kuantitas suara para pemilih pada PEMILU 2009 , tidak sama dengan kuantitas suara PILPRES 2009.  Jumlah suara pada PEMILU 2009,  104.095.847 (detik.com) sementara untuk PILPRES 2009, jumlah suara adalah 121.504.481 (asa borneo.com). Maka, antusiasme pemilih pada pilpres, jauh lebih besar dibandingkan dengan pemilihan anggota legislatif.

2. Sistem pemerintahan Presidensial yang kita anut, menunjukkan bahwa pertanggungjawaban dan kewenangan secara ideal berada dalam genggaman presiden, bukan dalam genggaman siapa pun (partai tertentu) selain dirinya.

3. Banyaknya para anggota dewan yang dipenjara atau dipidana, menunjukkan bahwa dalam batasan tertentu, banyak salah pilih yang telah dilakukan oleh masyarakat dalam proses pemilihan anggota legislatif, atau banyak anggota legislatif yang SUDAH SEDEMIKIAN CANGGIH DAN BAJINGANNYA sehingga dapat MENGELABUI kebanyakan anggota masyarakat.

 

Maka, berangkat dari Informasi di atas, seharusnya SUSILO BAMBANG YUDHOYONO bersyukur denganBANYAKNYA RAKYAT yang memilih dia, bukan malah KUFUR NIKMAT. SEAKAN-AKAN yang memilih dia adalah ANGGOTA DEWAN atau PARTAI POLITIK, atau jangan-jangan SUSILO BAMBANG YUDHOYONO sudah sama BAJINGANNYA dengan PARA POLITISI  TERPIDANA…silakan Anda jawab sendiri.

 

Idenya, di saat rakyat kesulitan cari makan, ancaman harga minyak yang melambung tinggi, ancaman inflasi, ancaman pasar bebas ASEAN di mana Indonesia belum siap, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO masih selalu memikirkan kekuasaan, bukan rakyatnya yang memberi  amanat atas kekuasaan…. Jadi, masih perlukah kita MEMPERTAHANKAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO?


Advertisements

Masa Depan Anak Koruptor dan Penjahat Kerah Putih (Polling Bo!)

Disclaimer : Yang keberatan, silakan berkomentar atau menulis keberatannya baik via komentar atau di blog dhewe, nanti ta’ link sisan. otre?

Bacaan ini bukan bacaan biasa, perubahan sikap, perilaku, adalah hak dan tanggungjawab pembaca, 8dk hanya menyodorkan tulisan untuk dibaca, tidak untuk mengubah persepsi, perilaku atau lain-lainnya.

Sebuah pertanyaan untuk kita bersama; silakan dipilih (ini polling lho; jawabnya via komentar aja, he he he )

Pertanyaannya mudah sekali,

“Apabila anak dari para koruptor, penyuap (e.g: Arthalyta Suryani), jaksa yang makan suap (e.g : Urip Tri Gunawan) , petugas pajak yang ngemplang pajak, polisi yang bajingan ;pemeras dan pemakan suap, penjahat bertopeng pejabat, telah menjadi dewasa kira-kira mereka akan seperti apa :

A : Lebih canggih dari kedua orang tuanya; kalo gak lebih canggih, berarti gak ada kemajuan dunks!


B : Lebih bersahaja, bertobat, seperti Ustadz Jeffry Al Bukhori yang kabarnya  bertobat tidak menyentuh kembali barang-barang haram.

C : Seperti Pak Harto dan atau Saudari Nunun Nurbaiti, berkelakuan buruk  hingga membabi buta, lalu berharap terkena penyakit lupa berat atau kehilangan salah satu fungsi syaraf memorik

D : Seperti Susilo Bambang Yudhoyono ; menjadi Presiden Republik Indonesia, yang akhirnya seringkali bertindak serba salah, tidak tegas; mungkin karena bawaan masa lalu (baca: ikut menikmati sesuatu)  atau berusaha mengabdi secara total terhadap bangsa dan negara, sembari tetap menutup mata atas kebobrokan para pejabat yang berpolah penjahat, dan tidak berani mengambil ketegasan secara optimal (sekalipun memiliki hak prerogatif tertentu terhadap hukuman atas seorang terpidana) dengan berjuta alasan berlindung dibalik kalimat sakti : tidak konstitusional.

Sekalipun didukung mutlak oleh suara pemilih, Alhamdulillah SBY tetap mengajak partai-partai lain berkoalisi, entah ini strategi atau bukti tidak memiliki kepercayaan diri, hanya TUHAN dan HANTU (mungkin) yang bisa menjawab dengan tepat.

E : Hanya Dukun dan Orang Pintar yang Maha Tahu

F : Tergantung kaderisasi dari Orang Tua bersangkutan


G : Amit-amit, mudah-mudahan gak kejadian di gw dan turunan gw (nah ini jawaban mudah, sekalipun “Jaka Sembung bawa golok”

H : Silakan tanya ke (maaf) kemaluan Anda masing-masing (jawaban ini boleh jadi  hanya cocok diutarakan oleh M.Al Amin Nur Nasution atau yang sejenis.)

Terima kasih teman-teman untuk partisipasinya….Salam….